"Harusnya aku sudah ada di titik tertentu sekarang." Pernah memikirkan kalimat itu? Ada fase yang sering kali tidak diajarkan di kampus. Fase yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam silabus mata kuliah. Fase setelah kuliah, ketika kehidupan mulai terlihat berbeda dari ekspektasi yang dulu kita bayangkan. Dulu saat masih semester awal, mungkin kita pernah berkata: "Nanti lulus umur 22 atau 23 tahun." "Langsung kerja." "Punya penghasilan sendiri." "Semua akan lebih jelas." Tapi nyatanya, hidup tidak selalu berjalan sesuai timeline yang kita susun sendiri. Ada yang lulus tepat waktu, ada yang harus menambah semester. Ada yang langsung mendapat pekerjaan, ada yang masih mencari arah. Ada yang sudah terlihat "berhasil", dan ada yang masih bertanya dalam hati: "Aku sebenarnya sedang ada di mana?" Kalau kamu saat ini berusia 24 tahun dan masih merasa belum menemukan versi terbaik diri sendiri, mungkin kamu tidak sendi...
Dihina “gendut” menjadi makanan keseharianku saat kecil. Ditambah panggilan “Dora”, aku mulai terbiasa dengan label itu. Tidak banyak hal yang ingin kuingat dari masa itu—semuanya seperti ingin kulupakan dan kulepaskan. Menjadi berbeda, katanya, adalah kesalahanku di mata teman-teman SD dan SMP. Kesukaanku tidak banyak dimiliki orang lain. Jadi ketika aku membeli, menggunakan, atau memanfaatkan sesuatu, aku tidak terlalu memedulikan pendapat orang lain. Cuek dan pendiam menjadi dua karakter yang terbenam dalam diriku selama bertahun-tahun. Aku kira itu memang sifat bawaan. Ternyata bukan… itu caraku melindungi diri dari perkataan orang lain. Aku selalu takut dikritik. Bahkan saat diberi saran dengan lembut pun, ada dorongan kuat untuk lari dan menghilang. Semua rasa tidak nyaman dan insecure kupendam sendiri. Bagiku itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana aku meresponsnya. Tapi ternyata, itu bukan solusi. Rasa itu tetap ada dan terus menghantui di berbagai fase usiak...