Ada juga momen-momen kecil di mana aku berhasil bertahan, meski hari itu rasanya berat banget buat dijalani. Banyak, ternyata, kalau dikumpulkan satu-satu. Tapi anehnya, waktu ngeliat semua itu, yang muncul di kepala bukan rasa bangga.
Hal yang muncul justru: "ini kan emang harus aku lakuin", "orang lain juga pasti bisa", "ini belum seberapa."Tidak ada jeda buat berhenti sejenak dan bilang ke diri sendiri, "eh, aku udah berhasil ngelewatin ini, lho."
Terus Berkembang Itu Nggak Salah, Tapi Ada yang Hilang
Aku sadar, dorongan buat terus memperbaiki diri itu sebenarnya bukan hal yang buruk. Justru itu yang bikin aku terus belajar dan bertumbuh dari waktu ke waktu.
Tapi belakangan aku mulai sadar, ada satu kebiasaan yang diam-diam terus aku ulang: begitu satu fase selesai, aku langsung loncat ke hal berikutnya yang harus diperbaiki atau dicapai.
Tidak ada jeda buat berhenti dan mengakui bahwa satu langkah itu udah selesai dilalui, dan itu berarti. Semua terasa kayak daftar panjang yang harus terus dicentang satu per satu, bukan perjalanan yang punya momen-momen kecil yang pantas dirayakan sepanjang jalan.
Kenapa Merayakan Itu Terasa Susah?
Kalau dipikir-pikir, mungkin ini karena aku selalu membandingkan diri dengan versi yang "seharusnya lebih baik lagi". Begitu satu hal tercapai, standar itu otomatis naik lagi di kepala. Jadi pencapaian yang tadinya terasa besar, bisa langsung terasa biasa aja begitu udah terlewati.
Ada juga semacam rasa takut, kalau berhenti sejenak untuk merayakan sesuatu itu artinya jadi cepat puas, atau berhenti berusaha.
Padahal, kalau dipikir lebih jernih, dua hal itu sebenarnya nggak saling menggantikan. Merayakan progress bukan berarti berhenti melangkah.
Itu cuma soal memberi ruang untuk diri sendiri, mengakui bahwa proses yang udah dilalui itu nyata dan berarti, sebelum melanjutkan langkah berikutnya.
Hal-Hal Kecil yang Sering Terlewat Begitu Saja
Aku jadi mikir ulang, berapa banyak momen kecil yang sebenarnya udah aku lewati begitu saja tanpa disadari. Bisa jadi soal berhasil lebih tenang menghadapi situasi yang dulu bikin panik. Bisa jadi soal berani mengambil keputusan yang dulu terasa menakutkan.
Bisa juga sekadar bertahan di hari yang berat, dan tetap bangun keesokan harinya untuk mencoba lagi.
Semua hal-hal kecil ini nggak pernah benar-benar diberi ruang untuk diakui. Bukan karena nggak penting, tapi karena aku terlalu fokus ke apa yang belum tercapai, sampai lupa menoleh ke belakang dan melihat seberapa jauh sebenarnya sudah berjalan.
Belajar Berhenti Sejenak, Bukan Berarti Berhenti Bertumbuh
Aku mulai belajar, mungkin yang perlu diubah bukan keinginan untuk terus berkembang itu sendiri, melainkan cara aku memperlakukan progress yang sudah dicapai.
Bukan berarti setiap pencapaian harus dirayakan besar-besaran. Cukup dengan jeda sederhana—mengakui dalam hati, "ini progress, ini hasil dari usaha yang sudah aku jalani," sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Ini kedengarannya sepele, tapi ternyata tidak semudah itu dipraktikkan buat orang yang sudah terbiasa terus bergerak maju tanpa menoleh ke belakang. Butuh kesadaran yang disengaja untuk berhenti sejenak, bukan sesuatu yang otomatis terjadi begitu saja.
Kenapa Ini Penting, Bukan Cuma Soal "Menghargai Diri"
Di luar soal kesehatan mental yang memang penting, aku juga mulai sadar bahwa kebiasaan lupa merayakan progress ini punya dampak lain: membuatku tidak punya cukup "bukti" untuk dipegang saat rasa ragu terhadap diri sendiri datang.
Kalau semua progress terasa biasa saja dan cepat dilupakan, gampang sekali muncul pikiran "aku belum cukup baik", padahal buktinya sebenarnya sudah ada, hanya saja tidak pernah benar-benar diakui.
Jadi, merayakan pencapaian kecil itu bukan cuma soal kesenangan sesaat. Itu juga cara untuk mengumpulkan bukti nyata, yang nantinya bisa menjadi pegangan di saat-saat keraguan itu muncul lagi.
Mulai dari Hal Kecil
Aku belum punya jawaban pasti bagaimana caranya konsisten melakukan ini. Tapi setidaknya, aku mulai mencoba hal kecil—sesekali berhenti sejenak setelah melalui sesuatu yang berat atau menyelesaikan sesuatu yang lama diperjuangkan.
Dan benar-benar mengakui itu, bukan langsung berpindah ke hal berikutnya yang harus dikejar. Kadang cukup dengan menuliskannya di jurnal, atau sekadar mengucapkan dalam hati, "tadi itu kamu jalani dengan baik."
Kecil, memang. Tapi mungkin dari kebiasaan sederhana seperti inilah, pelan-pelan aku bisa belajar untuk tidak selalu terburu-buru menuju tujuan berikutnya, tanpa pernah benar-benar menikmati jarak yang sudah ditempuh.
Dan mungkin, itu juga bagian dari proses tumbuh yang sesungguhnya—bukan cuma soal terus melangkah maju, tapi juga soal belajar berhenti sejenak, dan mengakui bahwa progress sekecil apa pun tetap progress yang berarti.
Komentar
Posting Komentar