Dihina “gendut” menjadi makanan keseharianku saat kecil. Ditambah panggilan “Dora”, aku mulai terbiasa dengan label itu. Tidak banyak hal yang ingin kuingat dari masa itu—semuanya seperti ingin kulupakan dan kulepaskan. Menjadi berbeda, katanya, adalah kesalahanku di mata teman-teman SD dan SMP. Kesukaanku tidak banyak dimiliki orang lain. Jadi ketika aku membeli, menggunakan, atau memanfaatkan sesuatu, aku tidak terlalu memedulikan pendapat orang lain. Cuek dan pendiam menjadi dua karakter yang terbenam dalam diriku selama bertahun-tahun. Aku kira itu memang sifat bawaan. Ternyata bukan… itu caraku melindungi diri dari perkataan orang lain. Aku selalu takut dikritik. Bahkan saat diberi saran dengan lembut pun, ada dorongan kuat untuk lari dan menghilang. Semua rasa tidak nyaman dan insecure kupendam sendiri. Bagiku itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana aku meresponsnya. Tapi ternyata, itu bukan solusi. Rasa itu tetap ada dan terus menghantui di berbagai fase usiak...
Ruang ini adalah tempat saya berbagi cerita, refleksi, dan insight tentang kehidupan, pertumbuhan diri, serta nilai-nilai Islam. Ditulis dengan hangat, dengan harapan setiap kata membawa makna dan manfaat. Kalian bisa berbagi cerita juga yaa