Langsung ke konten utama

5 Insecurity yang Kupendam Sejak Kecil (dan Dampaknya Sampai Dewasa)

Dihina “gendut” menjadi makanan keseharianku saat kecil. Ditambah panggilan “Dora”, aku mulai terbiasa dengan label itu. Tidak banyak hal yang ingin kuingat dari masa itu—semuanya seperti ingin kulupakan dan kulepaskan.

Menjadi berbeda, katanya, adalah kesalahanku di mata teman-teman SD dan SMP. Kesukaanku tidak banyak dimiliki orang lain. Jadi ketika aku membeli, menggunakan, atau memanfaatkan sesuatu, aku tidak terlalu memedulikan pendapat orang lain. Cuek dan pendiam menjadi dua karakter yang terbenam dalam diriku selama bertahun-tahun. Aku kira itu memang sifat bawaan. Ternyata bukan… itu caraku melindungi diri dari perkataan orang lain. 

Aku selalu takut dikritik. Bahkan saat diberi saran dengan lembut pun, ada dorongan kuat untuk lari dan menghilang. Semua rasa tidak nyaman dan insecure kupendam sendiri. Bagiku itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana aku meresponsnya. Tapi ternyata, itu bukan solusi. Rasa itu tetap ada dan terus menghantui di berbagai fase usiaku. 

Inilah lima insecurity yang selama ini kupendam.

1) Fisik 

 Sejak kecil aku punya pipi chubby dan badan gempal. Di foto ini, aku terlihat lucu… dan mungkin memang bahagia. Aku tidak ingat detail momennya, tapi aku tahu aku sedang bermain dengan teman dan keluarga. “Dora” awalnya adalah panggilan sayang dari keluarga. Aku baik-baik saja. Sampai akhirnya kata “gendut” disampaikan dengan cara yang membuatku merasa rendah diri. Aku menjadi pendiam. 

Temanku tidak banyak. Aku jarang bicara. Ketika panggilan yang dulu terasa biasa mulai terasa menyakitkan, aku bingung harus bereaksi bagaimana. Bertanya? Takut dimarahi. Akhirnya, aku kecil memilih diam dan memendam semua komentar tentang fisik. 

 2) Materi 

Aku tumbuh di keluarga yang sedang berjuang secara finansial. Kami tinggal di rumah kontrakan, dan itu sering jadi bahan hinaan. Sebagai anak kecil, aku sering bertanya dalam hati: Kenapa ngontrak dianggap salah? Apakah berdosa tinggal di kontrakan? Kenapa untuk ikut arisan harus punya rumah sendiri? Aku tidak mengerti. 

Pertanyaan itu kupendam tanpa jawaban. Saat dewasa, ternyata perasaan itu terbawa. Aku kuliah dengan beasiswa di Gunadarma, tapi rasa insecure justru muncul lebih besar dari yang kubayangkan. Aku melihat teman-temanku—banyak yang berasal dari ekonomi menengah ke atas. Indikator sederhanaku waktu itu: mobil. Hal kecil ini membawaku kembali ke memori lama tentang “ngontrak”. Dan aku baru sadar, luka itu belum selesai. 

3) Emosi 

 “Datar” dan “tidak punya emosi” adalah label yang pernah kuberikan pada diriku sendiri. Aku baru menyadarinya saat kuliah. Entah seberapa sabarnya teman-temanku di masa sekolah dulu menghadapi aku. Tidak mudah berteman dengan seseorang yang sulit mengekspresikan diri. Aku iri pada orang-orang yang bisa mengekspresikan emosi dengan mudah. 

Rasanya mustahil bagiku. Bahkan saat aku mencoba memaksakan diri, wajah datar itu tetap muncul. Dalam pandanganku, orang yang ekspresif lebih mudah diterima dan ditemani. Sementara aku sering dianggap berbeda—bahkan terkadang dibully secara halus karena itu. 

4) Keluarga 

Melihat keluarga lain yang hangat dan penuh kelembutan adalah salah satu insecurity terbesarku. Sejak kecil, aku merasa keluargaku tidak terbiasa mengekspresikan kasih sayang secara langsung. Kritik dan bentakan lebih sering muncul. Setiap melihat keluarga yang lembut, aku sering berpikir: “Andai keluargaku seperti itu, mungkin aku akan jauh lebih bahagia.” 

5) Pendidikan 

Sejak kecil, aku punya bayangan tentang sekolah “favorit”. Saat jalan-jalan dengan keluarga, aku sering berkata, “Aku mau sekolah di SMP ini… atau itu.” Alasannya sederhana: gengsi. Terlihat keren. Sekarang, aku menyadari yang lebih penting adalah mental pembelajar. Orang tuaku pun baru memulai itu. Banyak hal yang perlu dijelaskan dengan sangat sederhana, dan itu menjadi proses belajar yang panjang. 

Penutup 

Semakin aku menulis ini, semakin aku sadar… semua yang dulu aku anggap sebagai kelemahan, ternyata adalah caraku bertahan. 
Aku tidak benar-benar cuek. Aku hanya sedang melindungi diri. 
Aku tidak benar-benar tanpa emosi.  Aku hanya belum tahu bagaimana cara mengekspresikannya. 

Dan semua rasa insecure yang kupendam selama ini, bukan untuk disalahkan—tapi untuk dipahami. Hari ini aku mulai belajar bahwa menjadi berbeda bukanlah kesalahan. Menjadi aku, dengan segala cerita dan luka yang pernah ada, adalah proses yang membentukku sampai di titik ini. Mungkin aku belum sepenuhnya selesai. Tapi setidaknya, sekarang aku tidak lagi berlari. Aku memilih untuk melihat, menerima, dan perlahan berdamai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman terkait Pendidikan Seksualitas

Pengalaman pribadiku sendiri tentang pendidikan seksualitas masih sangat formal, hanyalah sekedar pembelajaran kurikulum pelajaran di sekolah . Contohnya belajar biologi yang ada materi sistem reproduksi tapi hanya sekedar itu saja , sekedar materi pelajaran kerjakan tugas ujian udah selesai begitu saja tidak memiliki makna mendalam bagiku .  Jadi, aku kurang dalam memahami pendidikan seksualitas bahkan cenderung memandang remeh. Bahkan sejak dulu aku udah sering mendengar bahwa anak perempuan dan anak laki laki itu memang harus dipisah tidurnya dan benar benar harus menjaga aurat. Hal ini baru aku benar memahaminya setahun belakangan ini. Ketika aku di sekolah sering mendengar banyaknya anak laki laki yang kadang mengucapkan alat reproduksi untuk memanggil orang lain secara kasar . Ini konteksnya  biasanya teman laki lakinya marah atau kesal ,  sejak kecil pun aku pernah beberapa kali mendengar dan dipahami kalau membahas tentang ini itu tidak boleh bahkan jangan membaha...

Bagaimana Islam memberdayakan wanita?

Empowerment dalam konteks Islam dapat diartikan sebagai memberikan kekuatan, pengetahuan, dan otonomi kepada individu atau komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan dan kontribusi positif mereka dalam masyarakat. Kondisi perempuan sebelum islam datang -Arab Jahiliyah: Wanita dibenci karena kelahirannya, wanita akan diperlakukan hina dan tanpa kemuliaan jika dibiarkan hidup. -Yunani: Wanita dianggap sebagai sumber penyakit dan bencana. -Romawi: Wanita hanya berperan sebagai pemuas nafsu laki laki saja. Praktik-praktik ini bukanlah ajaran dari Islam, tapi tradisi budaya lokal setempat. Faktanya, islam memuliakan wanita dengan memberikan mereka sejumlah hak, apa sajakah itu? 1.Perempuan ditinggikan derajatnya Maryam binti Imran sosok wanita suci yang melahirkan nabi Isa, ia adalah wanita tawakal dan menjaga diri. Asiyah dikenal dengan ketangguhan iman dan kesabaran tiada tanding. Hal ini menggambarkan bahwa derajat seseorang dalam islam tidak memandang jenis kelamin. Hal yang membedakan ...

5 Kesalahan yang Kulakukan Menuju Lulus Kuliah!

 "Setelah lulus aku mau pilih jalur mana ya?" Pertanyaan ini selalu hadir bagaikan kabut yang tidak pernah hilang di kepala, pikiran ini sudah hadir dari semester 6 dimana aku lulus D3 dan melanjutkan ke jenjang S1. Dunia kerja banyak diberitakan sedang tidak baik-baik saja, mendengarkan cerita orang2 yang ambil S2 juga berat berkali lipat tekanannya dari S1, menikah? terasa opsi paling terakhir yang ingin diambil. Apa keputusan yg diambil akhirnya? belum memutuskan saat itu aku hanya merencanakan untuk ambil magang karena belum ada pengalaman kerja sama sekali. Kehidupan saat kuliah hanya terkait kampus, rumah dan organisasi. Perjalanan di dunia perkuliahan aku melalui berbagai ketakutan-ketakutan yang kubayangkan tidak bisa terlewati dan Alhamdulillah bisa dengan bergandengan tangan dengan rasa takutku. Inilah 5 kesalahan yang kulakukan menuju kelulusan! 1. Kurang memaksimalkan waktu perkuliahan untuk eksplor diri Shok dan kaget, 2 kata ini mengguyurku setiap hari saat kuli...