Langsung ke konten utama

Alasan Aku Mulai Menulis Lagi Setelah Hiatus Bertahun-Tahun

Ada masa di mana blog ini benar-benar sepi. Bukan karena aku kehabisan hal untuk diceritakan, tapi karena aku menaruhnya di urutan paling belakang dari daftar prioritas. 

Ada kegiatan lain yang terasa lebih mendesak, lebih penting untuk dikejar, dan pelan-pelan menulis di sini jadi sesuatu yang "nanti aja deh" — sampai akhirnya nanti itu berubah jadi bertahun-tahun.

Aku nggak pernah benar-benar memutuskan untuk berhenti. Tidak ada momen dramatis di mana aku bilang, "sudah, aku stop nulis."

Hal yang terjadi justru lebih halus dari itu—aku cuma terus menunda, sampai jeda itu jadi kebiasaan, dan kebiasaan itu jadi jarak yang makin lama makin terasa jauh untuk dilangkahi kembali.

Ketika Sesuatu yang Lain Terasa Lebih Penting

Waktu itu, aku merasa wajar-wajar saja meletakkan blog ini di posisi bukan prioritas. Ada banyak hal lain yang menuntut waktu dan energi, dan menulis untuk diri sendiri terasa seperti sesuatu yang bisa ditunda tanpa konsekuensi apa pun. 

Toh, tidak ada tenggat waktu. Tidak ada orang yang menunggu tulisan baru. Tidak ada kerugian nyata kalau aku tidak menulis hari ini, minggu ini, bahkan bulan ini.

Tapi yang tidak aku sadari waktu itu, semakin lama aku menunda, semakin banyak juga hal-hal yang menumpuk di kepala tanpa pernah benar-benar diproses. 

Pikiran-pikiran itu tidak hilang begitu saja hanya karena tidak dituliskan. Mereka tetap ada, hanya saja tidak punya tempat untuk dikeluarkan.

Momen yang Menyadarkan Aku

Butuh waktu cukup lama sampai aku benar-benar sadar, blog ini sebenarnya bukan sekadar tempat menulis. Ia adalah ruang untuk aku bisa benar-benar mengeksplorasi apa yang ada di kepala, dan menuangkan hal-hal yang selama ini aku pendam sendirian.

Kesadaran itu tidak datang dari satu peristiwa besar. Ia lebih terasa seperti titik di mana aku akhirnya berhenti sejenak, dan bertanya pada diri sendiri: kemana semua pikiran yang selama ini aku simpan itu pergi? 

Dan jawabannya adalah, tidak ke mana-mana. Mereka hanya menumpuk, diam, menunggu ruang untuk keluar.

Blog ini, yang selama bertahun-tahun aku anggap bukan prioritas, ternyata justru bisa jadi ruang itu. 

Bukan untuk pembaca, bukan untuk validasi, tapi untuk aku sendiri—tempat aku bisa jujur tanpa harus menyaring apa yang pantas dan tidak pantas untuk didengar orang lain.

Baby Step, Tapi Tetap Langkah

Aku tidak akan bilang bahwa kembali menulis ini langsung mengubah banyak hal secara drastis. 

Kalau ditanya sejauh mana perubahan cara pandang aku sejak mulai menulis lagi, jujur, ini masih sangat baby step. Belum ada transformasi besar yang bisa aku ceritakan dengan penuh kepastian.

Tapi yang aku rasakan, proses menulis kembali ini pelan-pelan membantu aku lebih mengenali diri sendiri. 

Bukan lewat jawaban-jawaban besar, tapi lewat proses kecil setiap kali aku duduk dan mulai menulis—mencoba memahami apa yang sebenarnya aku rasakan, kenapa aku merasa begitu, dan apa yang sebenarnya aku butuhkan dari momen itu.

Langkah kecil ini mungkin belum terlihat signifikan dari luar. Tapi bagiku, setiap kali aku berhasil menuliskan sesuatu yang tadinya hanya berputar-putar di kepala, itu sudah menjadi progres tersendiri.

Menulis Bukan untuk Dikejar, Tapi untuk Dijalani

Salah satu hal yang aku pelajari dari proses ini adalah, menulis tidak harus selalu punya tujuan besar untuk bisa dianggap berarti. Tidak semua tulisan harus menghasilkan insight mendalam atau perubahan hidup yang signifikan.

Terkadang, cukup dengan menuliskan apa yang ada di kepala, tanpa ekspektasi apa pun, itu sudah menjadi bentuk penghargaan kecil untuk diri sendiri.

Dan mungkin, itu juga alasan kenapa aku akhirnya memutuskan untuk kembali. Bukan karena aku sudah siap dengan jawaban-jawaban besar tentang hidup, tapi karena aku sadar, aku butuh ruang untuk terus bertanya—dan blog ini adalah salah satu tempat paling jujur untuk melakukannya.

Penutup: Kembali, Meski Pelan

Aku tidak tahu apakah aku akan konsisten menulis di sini seterusnya. Tapi setidaknya, untuk saat ini, aku memilih untuk kembali—meski pelan, meski masih dalam tahap baby step, meski belum ada jawaban pasti soal kemana proses ini akan membawaku.

Hal yang aku tahu, blog ini sudah kembali menjadi ruang untuk aku mengenal diri sendiri, sedikit demi sedikit. Dan mungkin, itu sudah cukup jadi alasan untuk terus melanjutkannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Kesalahan yang Kulakukan Menuju Lulus Kuliah!

 "Setelah lulus aku mau pilih jalur mana ya?" Pertanyaan ini selalu hadir bagaikan kabut yang tidak pernah hilang di kepala, pikiran ini sudah hadir dari semester 6 dimana aku lulus D3 dan melanjutkan ke jenjang S1. Dunia kerja banyak diberitakan sedang tidak baik-baik saja, mendengarkan cerita orang2 yang ambil S2 juga berat berkali lipat tekanannya dari S1, menikah? terasa opsi paling terakhir yang ingin diambil. Apa keputusan yg diambil akhirnya? belum memutuskan saat itu aku hanya merencanakan untuk ambil magang karena belum ada pengalaman kerja sama sekali. Kehidupan saat kuliah hanya terkait kampus, rumah dan organisasi. Perjalanan di dunia perkuliahan aku melalui berbagai ketakutan-ketakutan yang kubayangkan tidak bisa terlewati dan Alhamdulillah bisa dengan bergandengan tangan dengan rasa takutku. Inilah 5 kesalahan yang kulakukan menuju kelulusan! 1. Kurang memaksimalkan waktu perkuliahan untuk eksplor diri Shok dan kaget, 2 kata ini mengguyurku setiap hari saat kuli...

Bagaimana Islam memberdayakan wanita?

Empowerment dalam konteks Islam dapat diartikan sebagai memberikan kekuatan, pengetahuan, dan otonomi kepada individu atau komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan dan kontribusi positif mereka dalam masyarakat. Kondisi perempuan sebelum islam datang -Arab Jahiliyah: Wanita dibenci karena kelahirannya, wanita akan diperlakukan hina dan tanpa kemuliaan jika dibiarkan hidup. -Yunani: Wanita dianggap sebagai sumber penyakit dan bencana. -Romawi: Wanita hanya berperan sebagai pemuas nafsu laki laki saja. Praktik-praktik ini bukanlah ajaran dari Islam, tapi tradisi budaya lokal setempat. Faktanya, islam memuliakan wanita dengan memberikan mereka sejumlah hak, apa sajakah itu? 1.Perempuan ditinggikan derajatnya Maryam binti Imran sosok wanita suci yang melahirkan nabi Isa, ia adalah wanita tawakal dan menjaga diri. Asiyah dikenal dengan ketangguhan iman dan kesabaran tiada tanding. Hal ini menggambarkan bahwa derajat seseorang dalam islam tidak memandang jenis kelamin. Hal yang membedakan ...

Pengalaman terkait Pendidikan Seksualitas

Pengalaman pribadiku sendiri tentang pendidikan seksualitas masih sangat formal, hanyalah sekedar pembelajaran kurikulum pelajaran di sekolah . Contohnya belajar biologi yang ada materi sistem reproduksi tapi hanya sekedar itu saja , sekedar materi pelajaran kerjakan tugas ujian udah selesai begitu saja tidak memiliki makna mendalam bagiku .  Jadi, aku kurang dalam memahami pendidikan seksualitas bahkan cenderung memandang remeh. Bahkan sejak dulu aku udah sering mendengar bahwa anak perempuan dan anak laki laki itu memang harus dipisah tidurnya dan benar benar harus menjaga aurat. Hal ini baru aku benar memahaminya setahun belakangan ini. Ketika aku di sekolah sering mendengar banyaknya anak laki laki yang kadang mengucapkan alat reproduksi untuk memanggil orang lain secara kasar . Ini konteksnya  biasanya teman laki lakinya marah atau kesal ,  sejak kecil pun aku pernah beberapa kali mendengar dan dipahami kalau membahas tentang ini itu tidak boleh bahkan jangan membaha...