Langsung ke konten utama

Usia 24 dan Masih Merasa Belum Menemukan Versi Terbaik Diri Sendiri? Ternyata Banyak yang Mengalaminya


 

"Harusnya aku sudah ada di titik tertentu sekarang."

Pernah memikirkan kalimat itu?

Ada fase yang sering kali tidak diajarkan di kampus. Fase yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam silabus mata kuliah. Fase setelah kuliah, ketika kehidupan mulai terlihat berbeda dari ekspektasi yang dulu kita bayangkan.

Dulu saat masih semester awal, mungkin kita pernah berkata:

"Nanti lulus umur 22 atau 23 tahun."
"Langsung kerja."
"Punya penghasilan sendiri."
"Semua akan lebih jelas."

Tapi nyatanya, hidup tidak selalu berjalan sesuai timeline yang kita susun sendiri.

Ada yang lulus tepat waktu, ada yang harus menambah semester. Ada yang langsung mendapat pekerjaan, ada yang masih mencari arah. Ada yang sudah terlihat "berhasil", dan ada yang masih bertanya dalam hati:

"Aku sebenarnya sedang ada di mana?"

Kalau kamu saat ini berusia 24 tahun dan masih merasa belum menemukan versi terbaik diri sendiri, mungkin kamu tidak sendirian.

Fase Setelah Kuliah Ternyata Tidak Sesederhana yang Dibayangkan

Ada hal yang menarik saat masih menjadi mahasiswa.

Kita sering membayangkan kehidupan setelah wisuda seperti garis lurus:

Kuliah → Lulus → Kerja → Stabil.

Padahal kenyataannya lebih seperti jalan yang bercabang-cabang.

Aku sendiri tidak pernah membayangkan fase setelah kuliah akan terasa seperti ini.

Di saat beberapa teman sudah sidang, sudah lulus, bahkan sudah mulai bekerja, aku masih menunggu jadwal sidang sambil berusaha menyibukkan diri.

Di titik itu, pikiran mulai berbicara:

"Harusnya aku bisa lebih cepat."

"Harusnya cuma empat tahun."

"Kenapa hampir lima tahun?"

Dan kata "harusnya" itu ternyata cukup melelahkan.

Karena semakin sering diulang, semakin terasa seperti sedang mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah punya aturan pasti.

Ketika Usia Mulai Terasa Menakutkan

Ada satu ketakutan yang mungkin cukup sering muncul setelah lulus:

"Kalau nanti usiaku lebih dari 25 tahun, masih ada tempat untukku tidak?"

Pertanyaan itu mungkin terlihat sederhana.

Tapi diam-diam bisa sangat mengganggu.

Kita mulai melihat lowongan pekerjaan.

Melihat syarat usia.

Melihat pencapaian orang lain.

Lalu mulai menghitung:

"Sekarang aku umur sekian."

"Kalau begini terus bagaimana?"

"Apakah aku terlambat?"

Dan tanpa sadar, kita mulai mengukur hidup dengan jam milik orang lain.

Padahal kenyataannya, tidak semua orang memulai dari titik yang sama.

Ada yang sejak awal memiliki akses, dukungan, kesempatan, atau kondisi yang berbeda.

Ada juga yang perlu berhenti sebentar untuk mencari arah.

Dan keduanya tidak membuat seseorang lebih baik atau lebih buruk.

Stagnan dan Membandingkan Diri: Dua Hal yang Sering Datang Bersamaan

Ada hal lain yang cukup berat selain rasa takut.

Yaitu rasa stagnan.

Rasa seperti:

"Aku bergerak, tapi kenapa rasanya tidak ke mana-mana?"

Lalu ditambah dengan kebiasaan membandingkan diri.

Melihat teman:

  • sudah bekerja

  • sudah punya karier

  • sudah menikah

  • sudah punya pencapaian

Lalu diam-diam bertanya:

"Aku kapan?"

Media sosial juga sering membuat semuanya terlihat mudah.

Orang lain terlihat menemukan jalannya lebih cepat.

Orang lain terlihat yakin dengan hidupnya.

Orang lain terlihat baik-baik saja.

Padahal kita tidak pernah benar-benar melihat proses lengkapnya.

Kita hanya melihat hasil akhirnya.

Dan sering kali kita membandingkan proses hidup kita dengan hasil hidup orang lain.

Tentu saja itu terasa berat.

"Keputusan Magangku Dulu Salah atau Benar Ya?"

Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat spesifik.

Tapi banyak orang pernah memikirkannya.

"Harusnya aku ambil kesempatan yang lain."

"Harusnya dulu aku pilih tempat berbeda."

"Harusnya aku tidak melakukan itu."

Aku juga pernah memikirkan hal yang sama.

Saat memutuskan mengambil dua periode magang, ada bagian dari diriku yang bertanya:

"Apa keputusan itu salah?"

Penyesalan tentu ada.

Karena manusia selalu bisa melihat pilihan lain setelah semuanya terjadi.

Tapi ada hal yang sering terlupakan:

Keputusan di masa lalu dibuat oleh versi diri kita yang saat itu hanya tahu informasi yang tersedia.

Kita memilih berdasarkan pemahaman, kemampuan, dan kondisi yang kita miliki saat itu.

Jadi mungkin masalahnya bukan karena kita bodoh.

Bukan juga karena kita gagal.

Mungkin saat itu kita hanya sedang mencoba mencari jalan.

Mungkin Kamu Belum Terlambat, Kamu Sedang Berproses

Ada tekanan besar di usia 20-an.

Kita merasa harus:

  • menemukan passion

  • memiliki pekerjaan tetap

  • punya penghasilan stabil

  • tahu arah hidup

  • menjadi versi terbaik diri sendiri

Padahal siapa yang sebenarnya menentukan semua itu?

Karena kalau dipikir lagi, versi terbaik diri sendiri bukan titik akhir.

Bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul lalu selesai.

Versi terbaik diri sendiri mungkin adalah proses yang terus berubah.

Mungkin dulu versi terbaikmu adalah seseorang yang bisa bertahan menyelesaikan kuliah.

Mungkin hari ini versi terbaikmu adalah seseorang yang masih terus mencoba meski sedang takut.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Jadi, Kalau Saat Ini Kamu Berusia 24 Tahun dan Masih Bingung?

Coba tanya ke diri sendiri:

"Apakah aku benar-benar tertinggal?"

Atau sebenarnya:

"Aku hanya sedang membandingkan perjalanan hidupku dengan orang lain?"

Karena mungkin kamu tidak terlambat.

Mungkin kamu hanya sedang berada di jalan yang berbeda.

Dan meski hari ini rasanya belum menemukan versi terbaik diri sendiri, bukan berarti versi itu tidak ada.

Bisa jadi ia sedang dibentuk — melalui penyesalan, kebingungan, rasa takut, dan proses yang sedang kamu jalani hari ini.

Tidak semua hal harus selesai di usia 24.

Dan mungkin, tidak apa-apa jika hari ini tugasmu bukan menjadi versi terbaik dirimu.

Mungkin tugasmu hari ini hanya satu:

Tetap berjalan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman terkait Pendidikan Seksualitas

Pengalaman pribadiku sendiri tentang pendidikan seksualitas masih sangat formal, hanyalah sekedar pembelajaran kurikulum pelajaran di sekolah . Contohnya belajar biologi yang ada materi sistem reproduksi tapi hanya sekedar itu saja , sekedar materi pelajaran kerjakan tugas ujian udah selesai begitu saja tidak memiliki makna mendalam bagiku .  Jadi, aku kurang dalam memahami pendidikan seksualitas bahkan cenderung memandang remeh. Bahkan sejak dulu aku udah sering mendengar bahwa anak perempuan dan anak laki laki itu memang harus dipisah tidurnya dan benar benar harus menjaga aurat. Hal ini baru aku benar memahaminya setahun belakangan ini. Ketika aku di sekolah sering mendengar banyaknya anak laki laki yang kadang mengucapkan alat reproduksi untuk memanggil orang lain secara kasar . Ini konteksnya  biasanya teman laki lakinya marah atau kesal ,  sejak kecil pun aku pernah beberapa kali mendengar dan dipahami kalau membahas tentang ini itu tidak boleh bahkan jangan membaha...

Bagaimana Islam memberdayakan wanita?

Empowerment dalam konteks Islam dapat diartikan sebagai memberikan kekuatan, pengetahuan, dan otonomi kepada individu atau komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan dan kontribusi positif mereka dalam masyarakat. Kondisi perempuan sebelum islam datang -Arab Jahiliyah: Wanita dibenci karena kelahirannya, wanita akan diperlakukan hina dan tanpa kemuliaan jika dibiarkan hidup. -Yunani: Wanita dianggap sebagai sumber penyakit dan bencana. -Romawi: Wanita hanya berperan sebagai pemuas nafsu laki laki saja. Praktik-praktik ini bukanlah ajaran dari Islam, tapi tradisi budaya lokal setempat. Faktanya, islam memuliakan wanita dengan memberikan mereka sejumlah hak, apa sajakah itu? 1.Perempuan ditinggikan derajatnya Maryam binti Imran sosok wanita suci yang melahirkan nabi Isa, ia adalah wanita tawakal dan menjaga diri. Asiyah dikenal dengan ketangguhan iman dan kesabaran tiada tanding. Hal ini menggambarkan bahwa derajat seseorang dalam islam tidak memandang jenis kelamin. Hal yang membedakan ...

5 Kesalahan yang Kulakukan Menuju Lulus Kuliah!

 "Setelah lulus aku mau pilih jalur mana ya?" Pertanyaan ini selalu hadir bagaikan kabut yang tidak pernah hilang di kepala, pikiran ini sudah hadir dari semester 6 dimana aku lulus D3 dan melanjutkan ke jenjang S1. Dunia kerja banyak diberitakan sedang tidak baik-baik saja, mendengarkan cerita orang2 yang ambil S2 juga berat berkali lipat tekanannya dari S1, menikah? terasa opsi paling terakhir yang ingin diambil. Apa keputusan yg diambil akhirnya? belum memutuskan saat itu aku hanya merencanakan untuk ambil magang karena belum ada pengalaman kerja sama sekali. Kehidupan saat kuliah hanya terkait kampus, rumah dan organisasi. Perjalanan di dunia perkuliahan aku melalui berbagai ketakutan-ketakutan yang kubayangkan tidak bisa terlewati dan Alhamdulillah bisa dengan bergandengan tangan dengan rasa takutku. Inilah 5 kesalahan yang kulakukan menuju kelulusan! 1. Kurang memaksimalkan waktu perkuliahan untuk eksplor diri Shok dan kaget, 2 kata ini mengguyurku setiap hari saat kuli...