Lamaran kerja ditolak. Naskah tulisan dikembalikan. Ajakan ditolak, atau chat nggak dibalas. Secara logika, semua itu cuma satu hasil dari satu situasi. Tapi rasanya sering jauh lebih besar dari itu: seolah yang ditolak bukan lamarannya, tapi kamunya. Kenapa bisa begitu? Kenapa penolakan yang sebenarnya spesifik terasa begitu personal? Ada beberapa alasan, dan memahaminya bisa membuat kita lebih ringan menghadapinya. 1. Otak kita dibentuk untuk takut ditolak Selama sebagian besar sejarah manusia, bertahan hidup bergantung pada kelompok. Orang yang dikeluarkan dari kelompok kecil punya peluang selamat yang jauh lebih kecil. Karena itu, otak kita diduga punya sistem yang sangat peka terhadap tanda-tanda penerimaan dan penolakan sosial. Psikolog Roy Baumeister dan Mark Leary pernah mengusulkan bahwa kebutuhan untuk dimiliki dan diterima adalah kebutuhan dasar manusia, bukan sekadar keinginan tambahan. Ada juga riset pencitraan otak, salah satunya dari Naomi Eisenberger, yang menemuk...
Hubungi: sabilanasuha07@gmail.com