Ada kalanya kita tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri kita, tetapi sulit menjelaskan apa.
Kita bilang, “Aku lagi nggak baik-baik aja.”
Tapi ketika ditanya, “Kenapa?”, kita justru bingung.
Mungkin jawabannya bukan karena kita tidak punya perasaan. Justru sebaliknya, ada terlalu banyak hal yang sedang kita rasakan sekaligus sampai kita sendiri kesulitan membedakannya.
Aku pernah berada di fase seperti itu.
Aku bisa merasa kesal, kecewa, sedih, takut, atau tidak nyaman terhadap sesuatu. Tetapi ketika mencoba memahami perasaanku sendiri, yang muncul sering kali hanya satu kesimpulan sederhana: “Aku kesel.”
Padahal, setelah dipikir-pikir lagi, ternyata rasa kesal itu tidak berdiri sendiri.
Ada kecewa di dalamnya. Ada harapan yang tidak terpenuhi. Ada rasa tidak dimengerti. Bahkan kadang ada ketakutan yang tidak ingin kuakui.
Dari situ aku mulai menyadari bahwa memahami perasaan ternyata bukan sekadar memberi nama pada emosi.
Kita sering langsung bereaksi sebelum memahami
Salah satu hal yang membuatku sulit memahami perasaan sendiri adalah karena aku sering terlalu cepat memberikan respons terhadap sesuatu.
Ada sesuatu yang terjadi → aku merasa tidak nyaman → aku bereaksi.
Selesai.
Aku jarang berhenti untuk bertanya:
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di dalam diriku?”
Aku justru lebih sibuk memikirkan kejadian di luar diri.
Kenapa dia ngomong begitu?
Kenapa mereka tidak memahami aku?
Kenapa hal ini harus terjadi?
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kenapa hal ini begitu memengaruhiku?”
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya sering kali tidak sederhana.
Karena sebuah kejadian yang sama bisa memberikan respons yang berbeda pada setiap orang. Artinya, yang membuat kita bereaksi bukan hanya kejadian itu sendiri, tetapi juga makna yang kita berikan terhadap kejadian tersebut.
Misalnya, seseorang tidak menerima pendapat kita.
Secara objektif, mungkin hanya terjadi perbedaan pandangan.
Tetapi bagi kita, itu bisa terasa seperti penolakan.
Dan kalau kita tidak menyadari perbedaan tersebut, kita mungkin mengatakan:
“Aku marah karena dia nggak menghargai pendapatku.”
Padahal mungkin ada perasaan lain di balik kemarahan itu:
“Aku merasa tidak didengar.”
Atau bahkan:
“Aku merasa pendapatku tidak cukup penting.”
Di titik ini aku belajar bahwa emosi yang terlihat belum tentu menjadi emosi yang paling dalam.
Emosi sering menjadi pintu masuk, bukan jawaban akhir
Salah satu hal yang membantuku belajar memahami diri adalah mulai mengenal emosi dengan lebih baik.
Aku belajar bahwa emosi tidak selalu perlu langsung dihilangkan.
Kadang ia perlu didengarkan terlebih dahulu.
Marah misalnya, tidak selalu berarti kita sedang membenci seseorang. Marah bisa muncul karena merasa dilanggar, tidak dihargai, kecewa, atau tidak mendapatkan sesuatu yang kita harapkan.
Sedih juga tidak selalu berarti kita hanya sedang kehilangan sesuatu. Bisa jadi kita sedang merasa tidak berdaya.
Cemas tidak selalu berarti ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Bisa jadi kita sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.
Semakin aku belajar tentang emosi, semakin aku menyadari bahwa perasaan sebenarnya membawa informasi.
Ia memberi petunjuk tentang apa yang penting bagi kita, apa yang kita takutkan, apa yang kita harapkan, dan bagian mana dari diri kita yang mungkin sedang membutuhkan perhatian.
Tetapi tentu saja, informasi bukan berarti selalu benar secara objektif.
Perasaan kita valid untuk dirasakan, tetapi belum tentu seluruh interpretasi kita terhadap situasi benar.
Menurutku, ini bagian yang cukup penting.
Kita bisa mengatakan:
“Aku merasa tidak dihargai.”
tanpa langsung menyimpulkan:
“Berarti dia memang tidak menghargai aku.”
Dua hal itu berbeda.
Yang pertama adalah pengakuan terhadap pengalaman batin kita.
Yang kedua adalah kesimpulan tentang orang lain.
Dan semakin aku memahami perbedaan ini, semakin aku belajar untuk tidak langsung mempercayai semua pikiran yang muncul ketika sedang emosional.
Kadang kita belum punya bahasa untuk menjelaskan diri sendiri
Aku juga mulai menyadari bahwa memahami perasaan membutuhkan kosakata emosional.
Kalau sejak kecil kita terbiasa mengatakan “sedih”, “marah”, “kesal”, atau “senang”, mungkin kita akan menggunakan kata-kata itu untuk hampir semua pengalaman emosional.
Padahal ada banyak sekali nuansa di antaranya.
Kecewa berbeda dengan sedih.
Kesepian berbeda dengan merasa tidak dimengerti.
Cemas berbeda dengan takut.
Frustrasi berbeda dengan marah.
Merasa ditolak berbeda dengan merasa tidak dihargai.
Semakin spesifik kita bisa memberi nama pada pengalaman tersebut, semakin mudah kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Bukan untuk membuat perasaan menjadi rumit.
Justru sebaliknya.
Memberi nama membantu kita mengurai sesuatu yang sebelumnya terasa seperti benang kusut.
Jadi, bagaimana mulai memahami apa yang kita rasakan?
Aku sendiri masih belajar. Tapi ada beberapa pertanyaan sederhana yang cukup membantu ketika aku merasa emosiku sedang penuh.
Apa yang sebenarnya aku rasakan?
Bukan apa yang seharusnya aku rasakan. Bukan juga apa yang ingin aku tunjukkan kepada orang lain.
Lalu:
Apa yang terjadi sebelum perasaan ini muncul?
Bagian mana dari kejadian itu yang paling menggangguku?
Apa yang sebenarnya aku harapkan?
Apakah aku sedang kecewa, takut, merasa tidak dimengerti, atau merasa kehilangan kendali?
Dan yang terakhir:
Apakah yang aku rasakan berasal dari kejadian yang sedang terjadi, atau ada pengalaman lama yang ikut tersentuh?
Aku tidak selalu menemukan jawabannya.
Kadang setelah merenung pun aku masih bingung.
Dan mungkin itu tidak apa-apa.
Karena memahami diri bukan pekerjaan sekali jadi.
Ada kalanya kita hanya bisa mengatakan, “Aku tahu ada sesuatu yang menggangguku, tapi aku belum tahu apa.”
Menurutku, itu sudah menjadi awal yang cukup baik.
Sebab memahami diri bukan tentang selalu tahu jawaban atas semua perasaan kita.
Mungkin lebih tepatnya, belajar cukup berhenti untuk mau mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.
Dan semakin sering kita melakukannya, mungkin kita akan mulai menyadari bahwa di balik rasa marah ada luka, di balik rasa takut ada sesuatu yang ingin kita lindungi, dan di balik kebingungan ada kebutuhan yang belum kita pahami.
Barangkali, mengenal diri memang tidak selalu dimulai dari menemukan jawaban.
Kadang, ia dimulai dari keberanian untuk bertanya:
“Sebenarnya, apa yang sedang aku rasakan?”
Komentar
Posting Komentar