Pernah nggak, kamu melihat seseorang yang tiba-tiba jadi lebih pendiam, lalu dalam hati langsung berpikir, “Dia kayaknya lagi marah sama aku.”
Atau ketika seseorang membalas pesan dengan singkat. Hanya dua kata. Tidak ada emoji, tidak ada tambahan apa-apa. Lalu pikiran kita mulai bekerja: “Aku salah ngomong, ya?” atau “Jangan-jangan dia sebenarnya nggak suka sama aku.”
Padahal, kita belum benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.
Bisa saja dia sedang lelah. Sedang banyak pekerjaan. Sedang memikirkan sesuatu yang lain. Atau memang sedang tidak punya energi untuk banyak bicara. Tetapi anehnya, pikiran kita sering kali lebih cepat membuat kesimpulan daripada mencari tahu kenyataannya.
Kenapa kita mudah membuat asumsi tentang orang lain?
Kita Tidak Suka Ketidakpastian
Salah satu alasan sederhananya adalah karena manusia cenderung tidak nyaman dengan sesuatu yang belum jelas.
Ketika kita tidak tahu alasan seseorang bersikap tertentu, ada ruang kosong yang perlu diisi. Dan pikiran kita sering mengisinya dengan cerita.
Misalnya, kamu mengirim pesan kepada teman dan tidak mendapat balasan selama beberapa jam.
Faktanya hanya satu:
Dia belum membalas pesanmu.
Tetapi kemudian muncul banyak kemungkinan:
“Dia sibuk, mungkin.”
“Atau dia sebenarnya kesal.”
“Jangan-jangan aku ada salah.”
“Kayaknya dia sudah nggak mau dekat lagi.”
Menariknya, semakin lama kita tidak mendapatkan informasi, semakin mudah kita mempercayai cerita yang kita buat sendiri.
Padahal, cerita tersebut belum tentu merupakan kenyataan.
Kadang kita bukan sedang membaca situasi. Kita sedang mengisi kekosongan informasi dengan asumsi.
Pikiran Kita Senang Mencari Pola
Otak manusia memang terbiasa mencari pola dari berbagai hal yang kita lihat dan alami.
Pengalaman masa lalu ikut memengaruhi cara kita membaca situasi hari ini.
Kalau sebelumnya kita pernah mengalami seseorang yang tiba-tiba diam lalu ternyata sedang marah, kita mungkin akan lebih mudah menghubungkan sikap diam orang lain dengan kemarahan.
Kalau pernah dikecewakan oleh seseorang yang awalnya terlihat sangat perhatian, kita mungkin menjadi lebih waspada ketika bertemu orang baru yang menunjukkan perhatian yang sama.
Bukan berarti pengalaman masa lalu itu buruk.
Justru pengalaman membantu kita belajar.
Namun, ada perbedaan antara belajar dari pengalaman dan menganggap semua situasi baru pasti akan berakhir dengan cara yang sama.
Seseorang yang baru kita temui bukanlah orang yang sama dengan seseorang dari masa lalu kita.
Situasi hari ini juga belum tentu mengulang cerita yang sama.
Kita Sering Menganggap Perasaan sebagai Fakta
Ini bagian yang menurutku cukup menarik.
Kadang kita merasa sesuatu dengan sangat kuat, sehingga tanpa sadar menganggap perasaan tersebut sebagai bukti.
Misalnya:
“Aku merasa dia menjauh. Berarti dia memang sudah nggak nyaman sama aku.”
Padahal, merasa seseorang menjauh dan mengetahui seseorang memang menjauh adalah dua hal yang berbeda.
Perasaan kita tetap valid. Kalau kita merasa sedih, cemas, atau tidak nyaman, perasaan itu memang sedang kita alami.
Tetapi perasaan tidak selalu bisa menjadi bukti tentang apa yang sedang dipikirkan orang lain.
Kita boleh merasa khawatir tanpa langsung menyimpulkan.
Kita boleh merasa tidak nyaman tanpa langsung menuduh.
Kita boleh punya dugaan tanpa menjadikannya sebagai kenyataan.
Mungkin kalimat sederhana ini perlu lebih sering kita ingat:
“Aku merasa demikian, tetapi aku belum tentu tahu kenyataannya.”
Asumsi Sering Terasa Seperti Jalan Pintas
Mencari tahu kenyataan membutuhkan proses.
Kita mungkin perlu bertanya. Mendengarkan. Menunggu. Mengamati perilaku dalam konteks yang lebih luas.
Sementara membuat asumsi jauh lebih cepat.
Daripada bertanya, “Kamu baik-baik saja?”, kita bisa langsung berpikir, “Dia pasti lagi kesel.”
Daripada bertanya, “Ada yang berubah?”, kita bisa menyimpulkan, “Dia sudah nggak menghargai aku.”
Masalahnya, jalan pintas ini bisa membawa kita ke kesimpulan yang salah.
Lebih jauh lagi, asumsi yang tidak diperiksa bisa memengaruhi cara kita memperlakukan orang tersebut.
Kita menjadi lebih dingin karena mengira dia sedang menjauh.
Kita menjaga jarak karena mengira dia tidak menyukai kita.
Kita menjadi defensif karena mengira orang lain sedang menyerang kita.
Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya hanya terjadi di dalam pikiran bisa benar-benar memengaruhi hubungan di dunia nyata.
Tapi Bukankah Kadang Asumsi Kita Benar?
Iya.
Dan menurutku, ini yang membuat persoalannya menjadi lebih rumit.
Tidak semua asumsi itu salah.
Kadang kita memang bisa membaca situasi dengan tepat. Ada perubahan sikap yang memang nyata. Ada pola yang berulang. Ada perilaku yang memang memberikan tanda tertentu.
Jadi, belajar untuk tidak berasumsi bukan berarti kita harus menjadi orang yang naif atau mengabaikan intuisi.
Yang perlu dibedakan adalah:
“Aku melihat tanda-tandanya” dengan “Aku sudah tahu pasti apa yang terjadi.”
Kita bisa memperhatikan tanpa buru-buru menyimpulkan.
Kita bisa berhati-hati tanpa langsung mencurigai.
Kita bisa menggunakan intuisi sebagai sinyal untuk mencari tahu lebih jauh, bukan sebagai keputusan akhir.
Coba Pisahkan Fakta, Interpretasi, dan Cerita
Belakangan, aku merasa cara sederhana ini cukup membantu ketika sedang berhadapan dengan situasi yang membuat pikiran berkelana.
Coba bagi menjadi tiga bagian.
1. Apa faktanya?
Tuliskan sesuatu yang benar-benar terjadi dan bisa diamati.
Misalnya:
“Dia belum membalas pesanku sejak pagi.”
Itu fakta.
2. Apa interpretasiku?
Kemudian tanyakan:
“Apa arti yang sedang aku berikan terhadap fakta tersebut?”
Misalnya:
“Mungkin dia sedang menghindariku.”
Ini sudah merupakan interpretasi.
3. Cerita apa yang kemudian dibuat pikiranku?
Kadang dari interpretasi tadi muncul cerita yang jauh lebih panjang:
“Dia menghindariku karena sebenarnya sudah nggak suka berteman denganku.”
Padahal kita sudah semakin jauh dari fakta awal.
Menariknya, sering kali yang membuat kita paling lelah bukan faktanya, tetapi cerita yang kita bangun setelahnya.
Beri Ruang untuk Kemungkinan Lain
Salah satu cara mengurangi asumsi bukan dengan memaksa diri berpikir positif.
Bukan juga dengan mengatakan:
“Ah, jangan berpikir macam-macam. Pasti semuanya baik-baik saja.”
Karena itu juga bisa menjadi asumsi.
Yang lebih realistis adalah memberikan ruang untuk beberapa kemungkinan.
Misalnya:
“Dia belum membalas pesanku. Mungkin sedang sibuk. Mungkin sedang lelah. Mungkin belum melihat pesan. Atau memang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan nanti.”
Kita tidak harus memilih satu cerita sebelum memiliki cukup informasi.
Ada kalanya kita memang perlu menunggu.
Ada kalanya kita perlu bertanya.
Dan ada kalanya kita perlu menerima bahwa kita memang tidak tahu.
Ternyata, mengatakan “aku belum tahu” juga merupakan bentuk kedewasaan.
Karena Kita Tidak Pernah Benar-Benar Tahu Isi Kepala Orang Lain
Pada akhirnya, kita hanya bisa melihat apa yang ditunjukkan seseorang kepada kita.
Kita bisa mendengar kata-katanya.
Kita bisa mengamati tindakannya.
Kita bisa memperhatikan pola perilakunya.
Tetapi kita tidak bisa masuk ke dalam pikirannya dan mengetahui semuanya secara utuh.
Begitu juga sebaliknya.
Orang lain mungkin pernah salah memahami kita hanya karena melihat satu sisi dari diri kita.
Mereka mungkin mengira kita sombong karena kita pendiam.
Mengira kita tidak peduli karena kita tidak banyak bicara.
Mengira kita baik-baik saja karena kita terlihat tenang.
Padahal, mereka tidak tahu seluruh cerita yang sedang kita jalani.
Mungkin karena itu, kita juga perlu memberikan hal yang sama kepada orang lain:
sedikit ruang sebelum menyimpulkan.
Bukan berarti harus selalu memaklumi semua perilaku.
Bukan berarti harus mengabaikan red flags.
Tetapi setidaknya, sebelum membuat kesimpulan tentang seseorang, kita bisa bertanya kepada diri sendiri:
“Aku benar-benar tahu, atau aku hanya sedang menebak?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung menghilangkan kebiasaan kita membuat asumsi.
Tetapi bisa memberi jeda.
Dan terkadang, jeda kecil antara apa yang terjadi dan apa yang kita pikirkan tentangnya adalah tempat kita belajar untuk lebih adil—kepada orang lain, sekaligus kepada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar